KOMPAS.com - IBM lewat sebuah riset bertajuk "The CIO Study" mewawancarai 3.000 Chief Information Officer (CIO) di dunia, termasuk 168 CIO dari wilayah Asia Tenggara. Dalam pertemuan Kamis (6/10/2011), IBM mengungkapkan hasil risetnya, yang di antaranya mengungkap bahwa seiring semakin besarnya penggunaan teknologi dalam bisnis, peran CIO mengalami perubahan.
"Lebih dari dua pertiga senior management mengatakan bahwa teknologi penting untuk kelangsungan bisnis mereka," kata Charles kamau Njendu, Senior Engagement Manager, Global Business Services, IBM Singapore. Sebanyak 68 persen perusahaan berpendapat bahwa teknologi sangat penting dalam bisnis dan 58 persen telah mengintegrasikan teknologi dan bisnis dalam inovasi.
Pentingnya teknologi memperkuat peran CIO dalam perusahaan. Para CIO diharapkan dapat mendapatkan data dan insight dengan memanfaatkan teknologi sehingga bisa memberi sumbangsih pada pengembangan bisnis perusahaan. Dengan tuntutan ini, CIO menjadi sangat berpengaruh pada keputusan yang diambil dalam sebuah perusahaan.
Seiring perubahan yang terjadi pada posisi CIO, maka ada perubahan peran juga dalam pekerjaannya. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah pada penyederhanaan. Lebih dari 80 persen CIO (86 persen ASEAN dan 94 persen global) mengatakan bahwa mereka berencana untuk menyederhanan proses internal. Hal lainnya, para CIO juga berusaha mendekatkan diri dengan pelanggan.
Penelitian IBM mendeskripsikan 4 macam mandat CIO yakni memanfaatkan, memperluas, mentransformasikan dan mempelopori. Di tingkat ASEAN, mandat memperluas adalah yang dominan di sebanyak 10 dari 18 industri. CIO dengan mandat memperluas yang berferforma tinggi memandang pentingnya komunikasi dan kolaborasi internal serta integrasi bisnis dan teknologi.
Sementara itu, mandat memanfaatkan di ASEAN dijumpai di lembaga pemerintahan, otomotif dan produk konsumer. Mandat mentransformasikan banyak dijumpai di lembaga keuangan ASEAN. Mandat mempelopori di ASEAN umumnya dijumpai pada industri pasar uang, kesehatan serta telekomunikasi.
Njedu menilai, tiap mandat yang diemban oleh CIO tidak mencerminkan tahapan, tetapi merupakan bentuk penyesuaian dari jenis industri dan wilayah tempat bisnis dijalankan. Sebagai contoh, persaingan industri telekomunikasi di ASEAN membuat CIO dalam industri tersebut harus berperan dalam upaya mempelopori.
Dalam upaya menjalankan perannya, CIO saat iuni menaruh perhatian pada pemanfaatan teknologi untuk mendapatkan informasi yang tepat. Contoh, 4 dari 5 CIO yang disurvei menganggap bahwa business intelligence dan analytics sangat dibutuhkan untuk menterjemahkan data yang krusial bagi pengambilan keputusan.
Selain itu, peningkatan perhatian pada komputasi awan hampir dua kali lipat dari penelitian dua tahun lalu. Para CIO di ASEAN menyebutkan bahwa portofolio aplikasi (20 persen di ASEAN) dan pemanfaatan layanan awan (23 persen di ASEAN) adalah kegiatan mereka mengendalikan dan mengurangi biaya. Namun demikian, perhatian pada komputasi awan di ASEAN masih lebih rendah dibanding secara global.
Perhatian pada mobile juga meningkat. Sebanyak 68 persen CIO di kawasan ASEAN menaruh perhatian pada hal ini. Di Indonesia sendiri, trend mobile juga sudah bisa diamati di banyak bisnis, misalnya perbankan, telekomunikasi dan penerbangan. Dalam dunia perbankan dan penerbangan misalnya ada layanan mobile banking dan mobile check in.
Sejauh ini, berdasarkan penelitian IBM, CEO dan CIO memiliki prioritas yang sama dalam pengembangan bisnis. "Ada banyak faktor yang menjadi prioritas, tapi 3 faktor terpenting dalam pandangan CIO dan CEO sama, yakni market faktor, skill tenaga kerja dan teknologi. Pengembangan 5 tahun ke depan, CEO dan CIO juga memiliki kesamaan prioritas, yaitu skill tenaga kerja, insight dan intelligent dan client intimacy," kata Njendu.
No comments:
Post a Comment